Blog ini kini telah berpindah ke Az-paper.com!
Di Blog az-paper kamu bisa cari RPP, Referensi skripsi, Essay dan juga materi pembelajaran. seilahkan di cek. :)

LESSON PLAN
MPPP MODEL
I.       Context
Class: VII / Mover
School: SMP N3 Pekanbaru
Number of student: 35 students
Skill focus: Speaking and listening
Theme of lesson: Occupation
Time Allocation: 07.00 – 09.30 PM
Date: March 31st 2015

II.      Objective
By the end of the class students will:
-          Be able to classify about kind of occupation
-          Decide their interesting occupation
-          Be able to act out the occupational job

III.             Motivation Strategies:
-          Teacher greets the students
-          Teacher asks chairman to lead a Praying
-          Teacher checks the attendance list.
-          Teacher motivates the students by asking them to stand up and ask them how Rich people usually act. Then doing 3 action (shoulders up, chin up, eyes up), then big smile.

IV.             Presentation Strategies
-          Teacher asks students what they want to be
-          Teacher shows an occupational video
-          Teacher asks students what kind of job they like
-          Teacher explain about the topic

V.                Practice
-          Teacher gives students occupation card
-          Teacher asks students to fill in the missing letter of the card given
-          Teacher asks students to submit the card
-          Teacher asks students to choose the card randomly
-          Teacher ask students to give clues of the pictures without naming the occupation
-          Teacher ask students to act out like the picture in the card

VI.             Warm-up
-          Teacher shows a funny video to make them feel happy

VII.          Production
-          Teacher asks students to come in front and explain about the occupation
-          Teacher asks students to explain about what they want to be and why




Blog ini kini telah berpindah ke Az-paper.com!
Di Blog az-paper kamu bisa cari RPP, Referensi skripsi, Essay dan juga materi pembelajaran. seilahkan di cek. :)
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam yang telah memberikan karunianya yang tak terhingga kepada kami. Sehingga saat ini kami masih dapat menikmati semua yang anugerahnya di atas rasa syukur kami. Dan juga salawat dan salam kami semahkan kepada Nabi junjungan kami,yaitu Nabi Muhammad SAW yang telah mengajarkan kepada kami ilmu yang sangat berharga. Sehingga sampai saat ini ilmu itu masih diterapkan oleh seluruh umatnya diseluruh dunia ini.

Disini kami membuat makalah yang membahas bagaimana “Etika Murid terhadap Guru”. Disini kami menjelaskan apa itu murid, apa itu guru, bagaiman murid bersikap terhadap dirinya, dan juga bagaimana sang murid bersikap dan beretika terhadap guru mereka. Diharapkan beberapa penjelasan kami ini dapat menambah pengetahuan pembaca tentang bagaimna seharusnya seorang murid beretika terhadap guru mereka.

Makalah ini merupakan tugas terstruktur dalam mata kuliah Hadist Tarbawi, makalah ini dibuat untuk melengkapi nilai kami dalam mata kuliah ini.

Kami sebagai penulis masih sangat menyadari bahwa makalah ini sangat jauh sekali dari kata sempurna, karena kami masih dalam proses belajar untuk membuatnya kearah yang lebih baik. Jadi kami sebagai mengharapkan kemakluman dari pembaca atas kekurangan makalah kami ini. Jika pembaca berkenan memberi kritik maupun saran, kami akan sangat berterima kasih. Sekian dari sang penulis, semoga bermanfat.

BAB I 

PENDAHULUAN 


1.1.Latar Belakang Masalah 
Dalam proses pembelajaran saat ini,nilai tidak hanya berdasarkan kemamouan siswa saja berdasarkan kemampuan akademiknya saja tetapi juga berdasarkan sikap dan tingkah laku siswa tersebut terhadap gurunya. Banyak dari siswa yang saat ini tidak tahu bagaimana ia seharusnya bersikap terhadap gurunya. Terkadang beberapa dari sikap dan perkataan mereka dianggap kurang sopan namun mereka tidak menyadari hal tersebut.Disini pendidikan hendaknya bagaimana merubah pengetahuan atau ilmu yang mereka dapat itu menjadi tingkah laku dan bagaimana mereka menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. 
Etika itu harus diajarkan sejak dari dini agar para murid tahu siapa dirinya dan kepada siapa saja mereka harus hormat. Sehingga nantinya akan tampak jelas peran orang tua dalam mendidik mereka dan juga akan tampak bagaimana mereka merealisasikan ilmu yang telah merek dapat dalam kehidupan sehari-hari. 

1.2.Rumusan Masalah 
Adapun rumusan masalah pada pembahasan kali ini adalah: 
a. Apa itu guru dan apa itu murid? 
b. Bagaimana karakteristik murid dalam perspektif hadist? 
c. Bagaimana etika murid terhadap dirinya dan juga tehadap guru? 

1.3.Tujuan Pembahasan 
Tujuan dari pembahasan ini adalah: 
a) untuk mengetahui bagaimana seharusnya murid bersikap terhadap dirinya, disini maksudnya bagaimana supaya mereka bisa menghargai diri mereka sendiri. 
b) untuk mengetahui bagaimana sebaiknya murid berstika terhadap guru mereka. 

1.4.Metode Pengumpulan Data 
Dalam pengumpulan data kali ini, metode yang digunakan adalah studi keperpustakaan. Dan juga penulis mengambil beberapa data dari buku online yang berhubungan dengan topic yang akan dijelaskan. 



BAB II 
PEMBAHASAN 
ETIKA MURID TERHADAP GURU 


A.Pengertian Guru 
Dalam literature kependidikan islam, kata guru juga sering dikatakan dengan Ustadz,mu’alim, murrabiy, muddaris dan muaddib. Sedangkan menurut Muhammad Ali al-Khuli dalam kamusnya “Dictionary of Education; English-Erobic”, kata “guru” disebut juga dengan mu’allim dan muddaris. 
Kata ustadz biasa digunakan untuk memanggil seorang professor.Ini mengandung makna bahwa seorang guru dituntut prosionalisme dalam mengemban tugasnya. Seorang dikatakan professional bilamana pada dirinya melihat sikap dedikatif yang tinggi terhadap tugasnya, sikap komitmen terhadap mutuproses dan hasil kerja, serta sikap continuous improvement, yaitu selalu berusaha memperbaiki dan memperbaharui model-model atau cara kerjanya sesuai dengan tuntutan zamannya. Yang dilandasi oleh kesadaran yang tinggi bahwa tugas mendidik adalah tugas menyiapakam generasi penerus yang akan hidup pada zamannya dimasa depan.
Kata “mu’allim” berasal dari kata dasar ilm yang menangkap hakekat sesuatu.Dalam setiap ilmu terkandung dimensi teoritis dan dimensi amaliyah.Ini mengandung makna seorang guru dituntut untuk mampu menjelaskan hakekat ilmu pengetahuan yang diajarkannya, sertamenjelaskan dimensi teoritis dan praktisnya, dan berusaha membangkitkan siswa untuk mengamalkannya. 
Dalam hal ini, sesuai dengan firman Allah dalam Surat Al-Alaq: 5 sebagai berikut: 

“ Dia mengajarkan manusia apa yang mereka tidak ketahui” 

Ayat ini berindikasi bahwa Allah mengajarkan baca tulis dengan perantara pena. Dan pengajaran itu berupa hal-hal yang tidak diketahui. Jadi pendidikan dalam arti ta’lim menunjukkan proses pemberian informasi kepada obyek didik sebagai makhluk yang berakal, di samping itu pula ta’lim juga menjadi indikator kelebihan manusia sebagai peserta didik karena kepemilikan akal pada dirinya. 

Jadi, tugas guru adalah mendidik dan menyiapkan peserta didik agar mampu berkreasi, sekaligus mengatur dan memelihara hasil karyanya untuk tidak menimbulkan malapetaka bagi dirinya, masyarakat dan alam sekitarnya.

Dengan demikian, seorang guru dituntut untuk sekaligus melakukan transfer of knowledge, internalisasi dan amaliyah (implementasi).Boleh dikatakan bahwa guru tidak hanya mengenalkan sebuah konsep dari suatu ilmu, tapi lebih dari itu, seorang guru mampu menerapkan adanya konsep itu.Melihat dari usaha-usaha guru di atas, maka kedudukan guru dalam Islam merupakan realita dari ajaran itu sendiri.Tidak boleh tidak, Islam pasti memuliakan guru.Tak terbayangkan terjadinya perkembangan pengetahuan tanpa adanya orang belajar dan mengajar; tak terbayangkan adanya belajar mengajar tanpa adanya guru, karena Islam adalah agama.Maka pandangan tentang guru, kedudukan guru tidak terlepas dari nilai-nilai kelangitan.

B.Pengertian Murid
Kata “murid” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mempunyai pengertian orang yang sedang berguru.Menurut Ahmad Warson Al-Munawwir dalam kamusnya “Al-Munawwir” bahwa “murid” adalah orang yang masa-masa belajar.Sedangkan kata “murid” menurut John M. Echold dan Hassan Shadily adalah orang yang belajar (pelajar).Istilah lain yang berkenaan dengan murid (pelajar) adalah al-thalib.Kata ini berasal dari bahasa Arab, thalaba, yathlubu, thalaban, thalibun yang berarti “orang yang mencari sesuatu”.Pengertian ini dapat dipahami karena seorang pelajar adalah orang yang tengah mencari ilmu pengetahuan,pengalaman, dan keterampilan dan pembentukan kepribadiannya untuk bekal kehidupannya di masa depan agar berbahagia dunia dan akhirat.

Kata al-thalib ini selanjutnya lebih digunakan untuk pelajar pada perguruan tinggi yang selanjutnya disebut mahasiswa. Penggunaan kata althalibuntuk mahasiswa dapat dimengerti karena seorang mahasiswa sudah memiliki bekal pengetahuan dasar yang iaperoleh dari tingkat pendidikan dasar dan lanjutan, terutama pengetahuan tentang membaca, menulis dan berhitung. Dengan bekal pengetahuan dasar ini, ia diharapkan memiliki bekal untuk mencari, menggali dan mendalami bidang keilmuan yang diminatinya dengan cara membaca, mengamati, memilih bahan-bahan bacaan, seperti buku-buku, surat kabar, majalah, fenomena sosial melalui berbagai peralatan dan sarana pendidikan lainnya, terutama bahan bacaan. Bahan bacaan tersebut setelah dibaca, ditelaah dan dianalisa selanjutnyadituangkan dalam berbagai karya ilmiah seperti artikel, makalah, skripsi, tesis, desertasi, laporan penelitian dan lain sebagainya.Dengan demikian, dalam arti al-thalib, seorang murid lebih bersifat aktif, mandiri, kreatif dan tidak bergantung kepada guru. Bahkan dalam beberapa hal ia dapat meringkas, mengkritik dan menambahkan informasi yang disampaikan oleh guru atau yang lebih dikenal sebagai dosen atau supervisor. Dalam kontek ini seorang dosen harus bersikap demokratis, memberi kesempatan dan menciptakan suasana kelas yang bebas, untuk mendorong mahasiswa untuk memecahkan masalah-masalah yang mereka hadapi. Kesempatan belajar yang diciptakan dosen adalah agar merangsang para mahasiswa belajar, berfikir, melakukan penalaran yang memungkinkan para mahasiswa dan dosen tercipta hubungan sebagai mitra. Minat dan pemahaman, timbal balik antara dosen dan mahasiswa ini akan memperkaya kurikulum dan kegiatan belajar mengajar pada bersangkutan.


C.Karakteristik Murid dalam Perspektif Hadist 
Secara fitrah, anak memerlukan bimbingan dari orang yang lebih dewasa. Hal ini dapat dipahami dari kabutuhan-kebutuhan dasar yang dimiliki oleh setiap orang yang baru lahir, Allah SWT berfirman: 

بٔطٔونِ أٔمَّهَا تِكُمْ لاَ تَعْلَمَُوْنَ شَيئًا وَ جَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأَ بْصَارَوَالأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ ْمِّنْأَخْرَجَكُموَالله 

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur.” 

Dalam perspektif hadits, peserta didik mempunyai karakteristik sebagai berikut: 
  • Peserta didik menjadikan Allah sebagai motimator utama dalam menuntut ilmu. 
  • Senantiasa mendalami pelajaran secara maksimal, yang ditunjang dengan persiapan dan kekuatan mental, ekonomi, fisik, dan psikis. 

عن أبي هريرة قا ل رسول الله صلى الله عليه وسلم ألمٶمن القوي خيروأحب الى الله من المٶمن الضيف 

“ Dari Abu Hurairah r,a, ia berkata: Rasulullah saw, telah bersabda: Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah.” 

  • Senantiasa mengadakan perjalanan (rihlah, comparative study) dan melakukan riset dalam rangka menuntut ilmu karena ilmu itu tidak hanya pada satu majlis al-‘ilm, tetapi dapat dilakukan di tempat dan majelis-majelis lain. 
  • Memiliki tanggung jawab. 
“Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata: Rasulullah saw, telah bersabda: Barang siapa yang ditanyai suatu imu pengetahuan, tetapi ia menyembunyikannya, maka Allah akan menyedikan baginya kekangan dari api neraka di hari kiamat”. 

  • Ilmu yang dimilikinya dapat dimanfaatkan. 

D.Etika Murid 
a. Etika Murid terhadap dirinya 
  •  Berniat ikhlas karena Allah semata. 
Sebelum memulai pelajaran, siswa harus lebih dahulu membersihkan dirinya dari segala sifat buruk karena belajar itu termasuk ibadah, dan ibadah yang diterima Allah adalah ibadah yang dilakukan dengan tulus ikhlas. Oleh karena itu, belajar yang diniatkan bukan karena Allah akan sia-sia. Nabi SAW bersabda: artinya: “ Sesungguhnya amal perbuatan itu dilandasi atas niat…” 
Hendaknya tujuan pendidikan itu karena takut kepada Allah SWT dan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda: 

“ Pelajarilah ilmu karena sesungguhnya mempelajarinya karena Allah adalah sebentuk takut kepada-Nya.” 

  • Jangan meninggalkan suatu mata pelajaran sebelum benar-benar menguasainya. 
  • Bersungguh-sungguh dan tekun belajar, siang dan malam, dengan terlebih dahulu mencari ilmu yang lebih penting. 
  • Tawaddu’, iffah, sabar, dan tabah, wara’, dan tawakal. 
  • Disiplin dan selektif memilih lingkungan (pendidikan).
Islam sangat mengutamakan kedisiplinan, terutama penggunaan waktu, bahkan Allah SWT bersumpah demi masa (waktu). Rasulullah SAW sendiri mewaspadai betul waktu, sehingga beliau bersabda:

“ Pergunakanlah lima kesempatan sebelum datang lima kesempitan: sehatmu sebelum sakitmu, waktu lapangmu sebelum waktu sempitmu, masa mudamu sebelum masa tuamu, masa kayamu sebelum masa miskinmu, dan waktu hidupmu sebelum matimu”. (H.R. Baihaqi) 

Kemudian murid juga selektif dalam membentuk lingkungan pergaulan, karena lingkungan turut membentuk corak pendidikan, perilaku, dan pola pikir seseorang. Seperti sabda Nabi SAW: 

” Perumpamaan sahabat yang baik dan sahabat yang buruk itu bagaikan pembawa misik (kasturi) dan penyulut api. Pembawa kasturi terkadang memberi kepadamu atau kau membeli dirinya, atau (paling tidak) kamu mencium bau harumnya. Adapun penyulut api, kalau tidak membakar pakaianmu, maka kamu mendapat bau baranya”.

b. Etika Murid Terhadap Guru 

Etika berasal dari bahasa Yunani, ethos(tunggal) atau ta etha(jamak) yang berarti watak, kebiasaan dan adat istiadat. Pengertian ini berkaitan dengan kebiasaan hidup yang baik, baik pada diri seseorang maupun suatu masyarakat yang diwariskan dari satu generasi ke generasi lain. 

Dari pengertian diatas, kita hendaknya mencoba mengaitkan dengan kemajuan pendidikan yang tidak hanya terpatri pada pengetahuan namun juga etika yang berdampak positif untuk anak didik.Kemajuan sebuah bangsa sangat berbanding lurus dengan kemajuan pendidikannya, rumusan ini sangat signifikan mengingat pendidikan adalah pondasi terhadap perubahan dari tidak tahu menjadi tahu, dari lemah menjadi semangat, dari takut menjadi berani, semua ini merupakan implikasi dari perkembangan pendidikan. 

Pendidikan merupakan ikhtiar yang strategis untuk kemajuan bangsa, dan kemajuan bangsa harus ditopang dengan sumber daya manusia yang stabil akan nuansa akhlak, bukan hanya tertera pada catatan yang terangkum di kurikulum dan materi ajar, melainkan nilai-nilai mulia yang aplikatif terinternalisasi dalam diri manuisa. 

Keberhasilan pendidikan dapat dilihat dari perbaikan sikap dan perilaku peserta didik dalam hal ini murid, karena tujuan utama dari pendidikan ialah memperbaiki kualitas manusia, maka pendidikan yang berhasil ialah pendidikan yang menghasilkan manusia yang berpengetahuan dan berakhlak mulia. Sebuah ungkapan Menteri Pendidikan Nasional Muhammad Nuh, penanaman moralitas yang terintegrasi dalam proses pendidikan dan pengajaran sedemikian penting, karena kecerdasan Intelektual tanpa dikawal kecerdasan moral dan kecerdasan spiritual akan mengalami keterpurukan didalam diri. 

Pada zaman Rasulullah dan para Sahabat murid itu mendapatkan kedudukan yang sangat tinggi dalam proses pendidikan, karena murid itu adalah sosok yang sedang tumbuh dan berkembang yang harus diperhatikan oleh pendidik. Dalam hal ini, para guru membuat aturan bagaimana muridmampu merealisasikan aturan, sehingga dapat menciptakan proses pembelajaran yang baik. 

Adapun mengenai etika murid terhadap guru, menurut Sa’id bin Muhammad Da’ib Hawwa itu ada sepuluh: 

1. Mendahulukan kesucian jiwa dari pada kejelekan akhlak dan keburukan sifat, karena ilmu adalah ibadahnya hati, shalatnya jiwa, dan peribadatannya batin kepada Allah. 

2. Mengurangi keterikatannya dengan kesibukan dunia, karena iktan-iktan itu menyibukkan dan memalingkan kepada Allah. Jika pikiran terpecah maka tidak bisa mengetahui berbagai hakekat. Oleh karena itu, ilmu tidak akan diberikan kepada seseorang sebelum seseorang tersebut menyerahkan seluruh jiwanya. 

3. Tidak bersikap sombong kepada orang yang berilmu dan tidan tidak bertindak sewenang-wenang terhadap guru, bahkan ia harus menyerahkan seluruh urusannya dan mematuhi nasehatnya. Oleh karena itu, penuntut ilmu tidak boleh bersikap sombong terhadap guru. Di antara bentuk kesombongannya terhadap guru adalah sikap tidak mau mengambil manfaat (ilmu) kecuali dari orang-orang besar yang terkenal. 

4. Hendaknya seorang murid menjaga diri dari mendengarkan perselisihan di antara mereka, baik yang ditekuni itu termasuk ilmu dunia ataupun akhirat. Karena itu akan membingungkan akal dan pikirannya, dan membuatnya putus asa dari melakukan pengkajian dan telaah mendalam. 

5. Seorang penuntut ilmu tidak boleh meninggalkan suatu cabang ilmu yang terpuji, atau salah satu jenis ilmu, kecuali ia harus mempertimbangkan matang-matang dan memperhatikan tujuan dan maksudnya. 

6. Hendaknya seorang tidak menekuni semua bidang ilmu secara sekaligus melainkan memulai dengan yang lebih mudah. 

7. Hendaklah seorang murid tidak memasuki suatu cabang ilmu sebelum menguasai cabang ilmu yang sebelumnya. 

8. Hendaklah mengetahui faktor penyebab adanya ilmu yang mulia. Yang dimaksud adalah kemulian hasil, kekokohan dan kekuatan dalil. 

9. Hendaklah tujuan murid di dunia adalah semata-mata untuk menghias dan mempercantik hatinya dengan keutamaan, dan akhirat adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meningkatkan diri untuk bisa berdekatan dengan makhluk tertinggi dari kalangan malaikat dan orangorang yang didekatkan (muqorrobin). 

10. Hendaklah mengetahui kaitan dengan tujuan agar supaya mengutamakan yang tinggi. 



Sedangkan menurut Hasyim Asy’ari bahwa etika murid terhadap ada sepuluh macam yang harus diketahui oleh murid:


1. Murid hendaknya membersihkan hati dari segala kotoran, agar ilmu mudah masuk pada dirinya. 

2. Memfokuskan niat hanya semata-mata karena Allah dan beramal dengan ilmunya, menjaga syariat, menerangi hati dan taqorrub Kepada Allah. 

3. Berusaha semaksimal mungkin untuk segera memperoleh ilmu, tidak tertipu oleh lamunan-lamunan kosong atau kemalasan. 

4. Qona’ah dan sabar terhadap makanan dan pakaian yang sederhana agar segera memperoleh kedalam ilmu dan sumber hikmah. 

5. Pandai mengatur waktu, sehingga semua potensi bisa dimanfaatkan secara maksimal. 

6. Makan sekedarnya, tidak terlalu kenyang, agar tidak menghambat ibadah dan memberatkan badan.
 
7. Berusaha bersikap waro’ (hati-hati terhadap masalah haram, subhat dan sia-sia); memilih yang halal bagi kebutuhan hidupnya agar hati senantiasa bersinar dan siap menerima cahaya ilmu dan keberkahanya. 

8. Menghindari makanan yang menyebabkan kemalasan dan melemahkan keberanian, termasuk juga menghindari hal-hal yang banyak menyebabkan lemahnya daya ingat. 

9. Menyedikitkan tidur selama tidak mengganggu kesehatan diri. 

10. Meninggalkan hal yang bisa menarik pada kesia-sian dan kelalaian dari belajar dan ibadah. 

Sangat jelas sekali, keharusan adanya niat dan kebersihan hati dalam belajar.Karena belajar dianggap sebagai ibadah dan tujuannya adalah ridha dan taqorrub kepada Allah.Untuk itu, murid harus menyesuaikan diri dengan sifat-sifat bersih dan suci dari Allah.Penekanan pentingnya kebersihan hati dalam belajar itu berdasarkan atas kepercayaan bahwa ilmu merupakan anugerah dari Allah yang maha Agung. Semakin suci dan bersih hati manusia akan semakin baik dan kuat menerima ilmu dan nur Allah. 

Dan juga perlu disadari, bahwa hormat dan patuh kepada gurunya bukanlah manifestasi penyerahan total kepada guru yang dianggap memiliki otoritas, melainkan karena keyakinan murid bahwa guru adalah penyalur kemurahan Tuhan kepada para murid di dunia maupun di akhirat. Selain itu juga didasarkan atas kepercayaan bahwa guru tersebut memiliki kesucian karena memegang kunci penyalur ilmu pengetahuan dari Allah.Dengan demikian, dalam kontek kepatuhan santri pada guru hanyalah karena hubungannya dengan kesalehan guru kepada Allah, ketulusannya, dan kecintaanya mengajar murid-murid. 

Adapun etika murid terhadap guru dalam kesehariannya adalah sebagai berikut: 
Ø Hendaklah murid menghormati guru, memuliakan serta mengagungkannya karena Allah, dan berdaya upaya pula menyenangkan hati guru dengan cara yang baik. 
Ø Bersikap sopan di hadapan guru, serta mencintai guru karena Allah. 
Ø Selektif dalam bertanya dan tidak berbicara kecuali setelah mendapat izin dari guru 
Ø Mengikuti anjuran dan nasehat guru. 
Ø Bila berbeda pendapat dengan guru, berdiskusi atau berdebat lakukanlah dengan cara yang baik. 
Ø Jika melakukan kesalahan, segera mengakuinya dan meminta maaf kepada guru. 
Ø Hendaknya murid memilih guru yang tidak hanya betul-betul menguasai bidangnya, tetapi juga mengamalkan ilmunya dan berpegang teguh kepada agamanya. 
Sabda Nabi SAW: 
لا يٶخذ العلم من ٳلا من أمين ثقة لأن قوام الدين با لعلم 
Artinya: 
”Tidak boleh menuntut ilmu kecuali dari guru yang amin dan tsiqah (mempunyai kecerdasan kalbu dan akal) karena kuatnya agam adalah dengan ilmu”. 
Selain itu, Dalam kitab Ilmu wa Adab al-‘Alim wa al- Muta’allim dikatakan bahwa sikap murid sama dengan sikap guru, yaitu sikap murid sebagi pribadi dan sikap murid sebagai penuntut ilmu. Sebagai pribadi seorang murid harus bersih hatinya dari kotoran dan dosa agar dapat dengan mudah dan benar dalam menangkap pelajaran, menghafal dan mengamalkanny.Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah saw: 
الا ان في الجسد مضفة ٳذا صلحت صلح سا ئر عمله وٳذا فسدت فسد سائر عمله الا وهي القلب
“Ingatlah bahwa dalam jasad terdapat segumpal daging, jika segumpal daging tersebut sehat, maka sehatlah seluruh perbuatannya, dan jika segumpal daging itu rusak, maka rusaklah seluruh awalnya.Ingatlah bahwa segumpal daging itu adalah hati.” 
Selanjutnya menurut Imam Ghazali, ada sepuluh kriteria yang harus diupayakan oleh anak didik, diantaranya yaitu: 
1. Sebelum memulai proses belajar, anak didik harus terlebih dahulu menyucikan jiwa dari perangai buruk dan sifat tercela. 
2. Semampu mungkin anak didik harus menjauhkan diri dari ketergantungan terhadap dunia. 
3. Anak didik harus selalu bersikap rendah hati, memperhatikan instruksi dan arahan pendidik, dan mampu mengontrol emosinya. 
4. Anak didik harus menghindarkan diri dari suasana perdebatan yang membingungkan. 
5. Seorang anak didik harus mmpunyai semangat mempelajari semua ilmu pengetahuan yang layak dipelajari sebagai konsekuensi adanya keterkaitan antardisiplin ilmu pengetahuan. 
6. Anak didik harus belajar secara gradual. Ia perlu menentukan skala prioritas ilmu pengetahuan dengan mengacu kepada manfaatnya, dalam hal ini adalah ilmu agama. 
7. Anak didik harus memahami hirarki ilmu pengetahuan. 
8. Anak didik harus memahami nilai ilmu pengetahuan yang dipelajari dan menentukan mana yang lebih utama dari yang lain. 
9. Anak didik mempunyai orientasi atas pendidikannya; tujuan jangka pendek, yaitu memperbaiki dan membersihkan jiwanya; sedangkan orientasi jangka panjang adalah mendekatkan diri pada Allah swt dan berusaha menaikkan derajatnya setara dengan malaikat. 
10. Anak didik harus hati-hati dalam memilih sosok pendidik demi kelangsungan proses belajar yang positif. 
kita sebagai pelajar/santri pasti menghormati guru dengan keilmuannya. 
Tersebut pula pada permulaan kitab Ta’limul Muta’allim, Assyaikh Burhanul Islam Azzarnuji telah menulis: 
“Maka apabila aku melihat para penuntut ilmu pada zaman sekarang ini (zaman Assyaikh Azzarnuji) bersungguh-sungguh kepada ilmu, dan mereka tidak sampai pula pada ilmu yang dipelajari (tidak mendapat manfaat dan hasilnya yaitu beramal dan menyebarkan), terhalang karena mereka telah salah jalan dan meninggalkan syarat-syaratnya. Dan setiap yang tersalah jalan akan sesat, dan tidak mendapati tujuan, sedikit maupun banyak. Maka aku ingin dan hendak menerangkan kepada mereka jalan menuntut ilmu….” 
Seterusnya Assyaikh Azzarnuji, menyebutkan adab atau etika perjalanan, etika menuntut ilmu dari mulai niat pertama menuntut ilmu itu sendiri hingga kepada memilih guru dan teman seperjuangan. Pentingnya mengagungkan ilmu dan ulama, wara dan berbagai lagi jalan yang harus dilakukan dalam menuntut ilmu.
Antara lain sebabnya adalah “tersalah jalan” itu sendiri, etika sopan santun dan beradab dalam menuntut ilmu sudah jarang diamalkan. Ingatlah wahai pelajar! Menuntut ilmu agama ini bukanlah sekedar hanya dengan mengumpulkan dan mengoleksi pengetahuan di otak saja.Karena jika demikian, maka harddisk PC jauh lebih alim dari kita semua. Sedangkan di dalam otak mengandung lebih dari 100 Gigabyte fail dari jutaan helaian kitab. Sudahkah kita menyimpannya dan berapa helai sudah didapati hafalan itu.Bila kita ingin tahu kesalahan jalan menuntut ilmu, maka ketahuilah bahwa salah jalan ini ada pada perkara-perkara yang telah disebutkan oleh Syaikh Azzarnuji. Tersebutkan dalam kitab Ta’limul Muta’allim, ada tiga perkara: 
1. Niat 
2. Memilih Guru 
3. Mengagungkan ilmu dan ulama. 
Jadi, sebagai penuntut ilmu kita harus mempunyai niat yang ikhlas agar ilmu yang kita cari dan kita amalkan itu menjadi berkah bagi kita dan kita juga mendapatkan Ridho Allah dari apa yang telah kita usahakan selama ini. 

BAB III 
PENUTUP 
A.Kesimpulan
 
a. Keseluruhan istilah anak didik dalam perspektif hadits mengacu pada satu pengertian, yaitu orang yang sedang menuntut ilmu, tanpa membedakan ilmu agama atau ilmu umum. 

b. Karakteristik peserta didik dalam perspektif hadits adalah: peserta didik menjadikan Allah sebagai motivator utama dalam menuntut ilmu, mendalami pelajaran secara maksimal, mengadakan perjalanan (rihlah, comparative study) dan melakukan riset, bertanggung jawab mengajarkan ilmunya kepada orang lain, dan ilmu itu harus dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat dan agama. 

c. Tugas dan tanggung jawab murid adalah: mengutamakan ilmu yang mempunyai kemaslahatan paling besar untuk agama umat dan kehidupan akhirat, mengulangi pelajaran, ikut bertanggung jawab pada pendanaan pendidikan jika ia mampu, mematuhi peraturan yang berlaku, mengutamakan menuntut ilmu dari pada amalan sunat lainnya, dan lain-lain.
 
B.Saran 
Diharapkan dengan adanya makalah ini dapat membantu para peserta didik untuk semakin tahu bagaimna seharusnya mereka bersikap.Dan para peserta didik hendaknya tahu bagaiman etika mereka jika mereka berhadapan dengan guru mereka.

Blog ini kini telah berpindah ke Az-paper.com!
Di Blog az-paper kamu bisa cari RPP, Referensi skripsi, Essay dan juga materi pembelajaran. seilahkan di cek. :)


The Necessity of Salt

Once upon a time there was a king who had three daughters. Because they were good and beautiful he loved them all sincerely. He did not know which one he should appoint as queen. As his birthday approached he summoned his daughters and said to them, "My dear children, I love all three of you sincerely, and for a long time have not known which one of you I should name to be the heir to my throne. But I have now decided that the one of you shall become queen who brings to me a birthday present that is most necessary in human life. Go and make your plans accordingly and with utmost diligence." The old king's birthday arrived, and the two oldest daughters brought him presents that were very necessary, but at the same time extremely expensive. However, the youngest daughter brought him nothing more than a little pile of salt in a decorated container. When the king saw her present, he became very angry, and he drove his daughter out of the castle, forbidding her ever again to let herself be seen by him. With deep sorrow the rejected daughter went out into the unknown world, comforted only by her faith in her own good sense. After walking a good while she came to an inn. There she found a female innkeeper who thoroughly understood cooking. She entered an apprenticeship with her and soon exceeded even the innkeeper in the art of cooking.

News spread far and wide of the excellent cook in this inn, and everyone who came this way and who still had a few kreuzers left in his pocket stopped to be served a roast or something even more elegant.

The king heard of the cook's reputation, and he hired her as court cook. Now it came to pass that the oldest princess was getting married, and the famous cook was assigned the preparation of the wedding feast, with no expenses to be spared. Thus on the wedding day one elegant dish after the other was served until the table almost cracked. Everything was excellently prepared, and everyone praised the cook. Finally the king's favorite dish arrived. Quickly taking a spoon he tasted it. "This has not been salted!" he cried out angrily. "Have the cook brought before me!" They quickly ran for the cook, who entered the hall undaunted. "Why did you forget to salt my favorite dish, you careless girl?" snapped the king at her. The cook answered, "You drove away your youngest daughter because she thought that salt was so necessary. Perhaps you can now see that your child was not so wrong."When the king heard these words he recognized his daughter, begged her for forgiveness, asked her to be seated at his side, and accepted her once again as his dear child. Then the wedding became doubly joyful. The king lived happily with his children for many years thereafter.

1. The text is about…

a. a princess who wanted to celebrate her birthday.
b. a king who became a famous cook.
c. a princess who proved that salt was so necessary.
d. a princess who finally got married with a famous cook.
e. A princess who drove his own father out of their castle.

2. Why did the King ask his daughters to bring him a birthday present that was the most necessary thing in human life?

a. To show that he was the most powerful man in the kingdom.
b. To see who loved him most
c. To decide who would be his cook.
d. To decide who would marry with the prince.
e. To decide who would be the next queen

3. Why did the King drive his youngest daughter out of his castle?

a. Because she wanted to become a cook.
b. Because he thought that she did not respect him.
c. Because the King did not want her got married with the Prince.
d. Because he wanted to prepare her to become the queen.

e. Because she did not want to give him any birthday gift.

4. Where did the King's daughter learn to cook?

a. In the castle.
b. In a villager's house.
c. In a famous restaurant.
d. In an inn.
e. In a course.

5. Why did the King ask the famous cook to prepare the wedding fest?

a. Because the King knew that it was his daughter.
b. Because people believed that she was the best cook in the kingdom.
c. Because she applied for the position of King's cook.
d. Because the King wanted to prove that salt was not so importance.
e. Because the King did not any other cook in the kingdom.

6. How did the King's daughter prove that salt is the most necessary thing in human live?

a. By giving the King a container of salt.
b. By telling the King that she is the famous cook.
c. By serving dishes cooked with much salt.
d. By serving very sweet dishes.
e. By serving dishes cooked without salt.

7. The word "undaunted" in paragraph 8 is contradictory in meaning to …

a. Curious
b. Fearless
c. Doubt
d. Confused
e. Afraid

Questions 8 .The following questions will test how well you understand certain passages. Answer these questions on the basis of what is stated or implied in the passage.

During the 1890's in America, child labor was common in the garment trade.Textile manufacturers squeezed workers into small, cramped, poorly ventilated workplaces known as sweatshops. Factory labor had a devastating effect on children's lives. For example, children who worked six-day weeks in a candy factory refused gifts of candy. The legs of a 7-year-old girl were paralyzed and deformed because she worked "day after day with little legs crossed, pulling out basting from garments.”

8. The purpose of the passage is to present

a. a personal observation
b. a solution to the problem
c. factual information
d. opposing scientific theories

Questions 9- 10 are based on the following passage

Research shows that young children who are read to on a regular basis will grow up to be better readers. When children sit in their parent's lap and listen to stories, they are learning about the pleasures of reading and the patterns of language. When you see children turning the pages of a book, looking at the pictures, and telling the story, often from memory, they are engaged in what is called emergent literacy. Parents can foster this early language and literacy development by talking with their children, telling them stories, reading to them every day, and surrounding them with books.

9. The writer's main point is that..

a. parents should read to their children
b. every day children must learn the alphabet before they can learn to read
c. pretend reading is one of the first steps toward learning
d. how to read parents should buy their children lots of books

10. Emergent literacy is best defined as ..

a. the practice of pretend reading
b. reading to children every day
c. patterns of language
d. early language and reading development

Questions 11 - 15:

The next artist in this survey of American artist is James Whistler; he is included in this survey of American artist because he was born in the United States, although the majority of his artwork was completed in Europe. Whistler was born in Massachusetts in 1834, but nine years later his father moved the family to St. Petersburg, Russia, to work on the construction of a railroad. The family returned to the United States in 1849. Two years later Whistler entered the U.S. military academy at West Point, but he was unable to graduate. At the age of twenty-one Whistler went to Europe to study art despite familial objections, and he remained in Europe until his death.

Whistler worked in various art forms, including etchings and lithographs. However, he is most famous for his paintings, particularly Arrangement in Gray and Black No. 1: Portrait of the Artists Mother or Whistlers Mother, as it is more commonly known. This painting shows a side view of Whistlers mother, dressed I black and posing against a gray wall. The asymmetrical nature of the portrait, with his mother seated off-center, is highly characteristic of Whistlers work.

11. The paragraph preceding this passage most likely discusses

a. A survey of eighteenth-century art
b.a different American artist
c. Whistlers other famous paintings
d. European artists

12. Which of the following best describes the information in the passage?

a. Several artists are presented
b. One artists life and works are described
c. Various paintings are contrasted
d. Whistlers family life is outlined.

13. Whistler is considered an American artist because
a. he was born in America
b.he spent most of his life in American
c. he served in the U.S. military
d. he created most of his famous art in America

14. The world majority in line 2 is closest in meaning to

a. seniority
b.maturity
c. large pieces
d. high percentage

15. It is implied in the passage that Whistlers family was
a. unable to find any work at all in Russia
b.highly supportive of his desire to pursue art
c. working class
d. military

16. The word objections in line 7 is closest in meaning to
a. protests
b.goals
c. agreements
d. battle

Questions 17-20

The locations of stars in the sky relative to one another do not appear to the naked eye to change, and as a result stars are often considered to be fixed in position. Many unaware stargazers falsely assume that each star has its own permanent home in the nighttime sky.
In reality, though, stars are always moving, but because of the tremendous distances between stars themselves and from stars to Earth, the changes are barely perceptible here. An example of a rather fast-moving star demonstrates why this misconception prevails; it takes approximately 200 years for a relatively rapid star like Bernard’s star to move a distance in the skies equal to the diameter of the earth’s moon. When the apparently negligible movement of the stars is contrasted with the movement of the planets, the stars are seemingly unmoving.

17. Which of the following is the best title for this passage?

a. What the eye can see in the sky
b. Bernard’s star
c. Planetary Movement
d. The Ever moving stars

18. The expression “naked eye” in line 1 most probably refers to

a. a telescope
b.a scientific method for observing stars
c. unassisted vision
d. a camera with a powerful lens

19. According to the passage, the distances between the stars and Earth are

a. barely perceptible
b. huge
c. fixed
d. moderate

20. The word “perceptible” in line 5 is closest in meaning to which of the following?

a. noticeable
b. persuasive
c. conceivable
d. astonishing

GOOD LUCK !
kunci jawaban :

1. C
2. E
3. B
4. D
5. B
6. C
7. A
8. C
9. C
10. D
11. B
12. B
13. A
14. D
15. C
16. A
17. D
18. C
19. B
20. A

Blog ini kini telah berpindah ke Az-paper.com!
Di Blog az-paper kamu bisa cari RPP, Referensi skripsi, Essay dan juga materi pembelajaran. silahkan di cek. :) 
The correlation between Students’ organization involvement
Toward students’ speaking ability At the fifth semester of English Language Education in UIN SUSKA RIAU

Chapter I
INTRODUCTION

In this chapter the researcher presents background knowledge of the study, statement of the research problem, purpose of the study, hypothesis, and significance of study, scope and limitation. Definition, Formulation of the research problem, Purpose of the study, Hypothesis, significant of the study, scope and limitation of the study, definition of key terms.

A. Background of the study

According to Mick Zais (2011), School Environment means the extent to which school settings promote student safety and student health, which may include topics such as the physical plant, the academic environment, available physical and mental health supports and services, and the fairness and adequacy of disciplinary procedures, as supported by relevant research and an assessment of validity. One goal of higher education is to prepare graduates(future leader) for the professional world there are still few formal training opportunities are offered to assist students in developing skills in personal leadership, organizational leadership, or community leadership(Patterson, 2012).

Student organizations: A group of students, sharing a common interest, funded. This group of students must abide by their own organization’s constitution as well as the students government Association’s organization existence policy (Ansevin-allen et al., 2007). So, the students who join in organization had been contract with organization policy. The policy made by students and also college. The policy is controlled by college and many institutions in college.

Every students believe that join in organization is not easy to do. Every minute should be used in beneficial working, because we have obligation in 2 important conditions. Firstly, obligation for organization programs, secondly obligation from our parents to study at college. Being a student of organization is quite hard.

Organization is sets of programs to make students work in real situation. It will be Lack of theory, full of action. The working of organization is divided into some division based on students’ interest. According to Astin, Craig and Warner said that on most campuses or colleges, students organization tend to fall into the following categories: governing bodies, Greek letter social organization, students government group , academic clubs, service group, honor societies, publication and media group, intramural sports clubs, religious organization, and special interest /cultural groups.(“2002-StudentParticipation.pdf,” 2002)

Organization is one of the extracurricular activities both academically or non-academically. Organization has many divisions to lead student’s intelligences. As human being we have 9 intelligences. According to Howard Gadrner in, there are 9 intelligences. They are: Naturalist intelligence, Musical intelligence, Logical – Mathematical Intelligence, Existential intelligence, Interpersonal Intelligence, Bodily- Kinesthetic Intelligence, Linguistic Intelligence, Intra-personal intelligence, Inter-personal Intelligence, and Spatial Intelligence.(Gardner, n.d.). Those intelligences are made up in organization division. Astin and Kuh said that Extracurricular provides opportunities to apply classroom knowledge to real world settings and develops skill setting that will assist the practical realities of the graduation(“2002-StudentParticipation.pdf,” 2002).

People realize that organization is part of human life. In everywhere places are always have organization, but unfortunately not all people think that organization is important for their future. The result, Many students in the college are not able to create own job because lack of leadership.

In college, students in a year more than a hundred, but the students who interest in organization are just a few. Many students think that join in organization will waste their time, their money, decreasing their free time and disturbing their college, in another hand students are thinking organization is not for them. Many students are also thinking that they do not able join in organization because they have no experience on it. Whereas, almost students organization are students who do not ever join in organization before.

Many students that join in organization have high score, good leadership, and good relation with friends and teacher. According to American council in (“2002-StudentParticipation.pdf,” 2002) notion that the enhancement of student learning with activities outside the classroom is content with the initial goal of student affairs work; to develop the whole students.

Nowadays leadership is very necessary for people. Without any leadership in the individual of students that will be hard to be autonomous person. Life is quite hard to be depending on others. Student is as educated person should have leadership to make them endure with many challenges in this world. In reality, students have many problems in college. At the very least, students who have good leadership will have good performance for their selves and also around them. Not only majority will be developed but more than college and also our beloved country, Indonesia.

The researcher chooses UIN SUSKA RIAU as a setting to do research, because it has organization for students called SAEED (Students association of English education department). Some students join in organization and also many students do not interest to join in organization. That is the reason why the writer wants to show that organization is important to support students’ intelligences. Because of the background of the study problem is appropriate to be investigated, remembering the benefit which can be taken from the research activity.

Based on the research background, the writer wants to know students’ organization involvement and students’ achievement. Therefore, the writer takes the title:

“The students’ organization involvement towards student’s achievement at the fifth semester of English education department in UIN SUSKA RIAU”.

B. Formulation of the research problem

According to the background of the problem, the study should be based on these statements of problem:

1. How is students’ organization in SAEED at fifth semester of UIN SUSKA RIAU?
2. How is students’ organization achievement at fifth semester of UIN SUSKA RIAU?
3. Is there any correlation between the students’ organization involvement and students’ achievement at fifth semester in UIN SUSKA RIAU?

C. Purpose of the study
Consciously, the researcher studies these problems in order to reach some purposes determined. It aims to get answer from the organized problems.
From the problem stated, the writer has some purposes as follow:

1. To know students’ organization involvement at fifth semester of UIN SUSKA RIAU.
2. To know students’ achievement at fifth semester of UIN SUSKA RIAU.
3. To know whether there is any positive correlation between students’ organization and students’ achievement at fifth semester of UIN SUSKA RIAU.


D. Hypothesis
The hypothesis is a powerful tool in scientific inquiry. It enables us to relate the theory to observe it. The use of hypothesis has united experience and reason to produce a powerful tool for seeking truth. Furthermore, Gray (1992 : 66) states hypothesis is tentative conclusion for certain behavior phenomenon or events that occurred or will not occur. A hypothesis states the researcher expectation concerning people the relationship between variables in the research problem.

1. Null Hypothesis (Ho). There is no positive correlation between students’ organization involvement and student’s achievement.
2. Alternative Hypothesis (Ha). There is positive correlation between students’ organization involvement and student’s achievement.

E. Significant of the study
By conducting this research the writer hopes that the result of this study research will be useful for the readers especially.
1. Theoretically
It is one of the contributions in the scope of correlation study, particularly students’ organization and students’ achievement.

2. Practically
a. Teacher
Teachers are able to guide students and improve student’s intelligences in the class and out of class.
b. Student
The students can read and distinct students their development intelligence in the class and out of the class.